Skip ke Konten

Pemimpin Berhikmat: Menciptakan Keharmonisan untuk Mencapai Tujuan

1 Oktober 2026 oleh
Pemimpin Berhikmat: Menciptakan Keharmonisan untuk Mencapai Tujuan
Pdt. Yasinta S. Kolinug,M.Th

Renungan Ibadah Kolom, Bulan September Minggu ke 4

Pembacaan Alkitab : Bilangan 11:10-17

Bapak, Ibu, dan Saudara-saudari yang dikasihi Tuhan,

Saat mendengar kata "pemimpin", sebagian besar dari kita sering kali membayangkan seorang direktur, ketua panitia, presiden, atau pendeta. Kita kerap mengidentikkan kepemimpinan semata-mata dengan jabatan struktur. Padahal, kepemimpinan sejati bukanlah soal gelar, status, atau kedudukan. Kepemimpinan adalah soal tanggung jawab.

Seseorang yang tidak memiliki jabatan formal tetaplah seorang pemimpin ketika ia memikul tanggung jawab atas orang-orang di sekitarnya.  Dalam rumah tangga, orang tua memimpin anak-anaknya, dan suami bersama istri memikul tanggung jawab atas arah dan spiritualitas keluarga.  Dalam persekutuan kolom atau kelompok kecil, pengurus maupun anggota yang peduli memikul tanggung jawab bersama untuk saling menopang, melayani, dan menjaga kehangatan iman sesama anggota.

Namun, ketika kita menjalankan tanggung jawab itu, pernahkah kita merasa bahwa beban yang ditanggung begitu berat? Musa pun pernah mengalami hal yang sama. Dalam Bilangan 11, bangsa Israel terus bersungut-sungut menuntut daging di padang gurun. Di tengah tekanan itu, Musa berkata kepada Tuhan pada ayat 14: "Aku seorang diri tidak dapat memikul beban seluruh bangsa ini, sebab terlalu berat bagiku."

Musa mengalami burnout (kelelahan hebat). Namun, tanggapan Tuhan bukanlah memarahi keputusasaannya, melainkan memberikan solusi kepemimpinan yang berhikmat melalui pembagian beban dan pembentukan keharmonisan.

Melalui Bilangan 11:17, Tuhan mengajar kita bagaimana menjadi Pemimpin Berhikmat yang Menciptakan Keharmonisan untuk Mencapai Tujuan: Yaitu:

1. Kerendahan Hati untuk Membagi Beban. "...maka mereka bersama-sama dengan engkau harus memikul beban bangsa itu, jadi tidak lagi engkau sendiri yang memikulnya."

Tuhan tidak pernah merancang kepemimpinan—baik dalam persekutuan maupun rumah tangga—sebagai aksi "pahlawan tunggal" (one-man show).

Dalam Persekutuan Kolom: Pelayanan tidak akan berjalan harmonis jika hanya Penatua, Diaken, atau Ketua Kolom yang mengerjakan semuanya. Pelayanan akan berkembang ketika setiap anggota diberi kesempatan untuk mengambil peran—ada yang memimpin pujian, menyiapkan tempat, mendoakan, atau membesuk sesama anggota.

Dalam Rumah Tangga: Seorang kepala keluarga atau ibu rumah tangga yang mencoba menanggung segala beban emosional dan fisik seorang diri tanpa membaginya dengan pasangan atau melibatkan anak-anak akan cepat merasa lelah dan frustrasi.

Saudara saudara, Menciptakan keharmonisan dimulai dari kerendahan hati untuk bersedia berbagi tugas dan mempercayai orang lain.

2.  Kesatuan Roh sebagai Dasar Keharmonisan. "...Aku akan mengambil sebagian dari Roh yang hinggap padamu itu dan menaruhnya atas mereka..."

Bagaimana keharmonisan sejati dapat tercipta di antara 70 tua-tua yang diangkat mendampingi Musa? Jawabannya ada pada kesatuan Roh. Tuhan tidak memberikan visi yang saling bertabrakan, melainkan menaruh Roh dan hikmat yang sama atas mereka. Keharmonisan dalam keluarga maupun persekutuan kolom tidak diciptakan hanya dengan aturan-aturan kaku, melainkan melalui kesamaan hati dan visi yang dipimpin oleh Roh Kudus: Dalam rumah tangga, keharmonisan tercipta ketika suami dan istri bersepakat di bawah pimpinan Roh Allah untuk mendidik anak-anak. Dalam persekutuan kolom, keharmonisan tercipta ketika perbedaan pendapat tidak merusak kasih, karena semua orang berfokus pada satu tujuan: memuliakan Tuhan dan saling menguatkan.

3. Hati yang Terus Melekat pada Tuhan "Maka Aku akan turun dan berbicara dengan engkau di sana..." Kunci keharmonisan bukanlah teknik manajemen manusia belaka, melainkan hadirnya Tuhan di tengah-tengah tanggung jawab kita. Sebelum tugas dibagi kepada 70 tua-tua, Tuhan menegaskan bahwa Dialah yang turun dan berbicara. Jadi saudara saudara,  Baik dalam mengurus keluarga yang penuh tantangan maupun menggembalakan persekutuan kolom, kita tidak bisa mengandalkan kekuatan sendiri. Pemimpin yang berhikmat adalah mereka yang selalu membawa setiap beban dan pergumulannya dalam doa kepada Tuhan.

Pertanyaan sekarang adalah bagaimana kita menerapkan hikmat dari Bilangan 11:17 ini dalam kehidupan sehari-hari? Ada beberapa hal yang dapat kita lakukan:

Pertama, Ingatlah bahwa kita adalah pemimpin di area yang Tuhan percayakan—baik sebagai orang tua di rumah maupun sebagai pelayan/anggota di persekutuan kolom. Jalankan tanggung jawab itu bukan sebagai beban yang dipikul sendiri, melainkan sebagai panggilan bersama.

Kedua, Belajarlah Bekerja Sama dan Mengdelegasikan. Di rumah, libatkan pasangan dan anak-anak dalam memikul tanggung jawab bersama. Di persekutuan kolom, ajak dan beri ruang bagi anggota lain untuk menyalurkan karunia mereka. Keharmonisan tercipta saat semua orang merasa dibutuhkan.

Ketiga, Andalkan Hikmat Roh Kudus. Sebelum mengambil keputusan dalam keluarga atau menyelesaikan gesekan di persekutuan, utamakan berdoa. Minta agar Roh Kudus memberi kerendahan hati dan tutur kata yang menyejukkan.

Bapak, Ibu, dan Saudara-saudari, Kepemimpinan bukan tentang seberapa tinggi jabatan yang kita pegang, melainkan tentang seberapa setia dan berhikmat kita memikul tanggung jawab yang Tuhan percayakan. Baik di dalam rumah tangga maupun di dalam persekutuan kolom, marilah kita menjadi pribadi yang menciptakan keharmonisan—yang mau bergandengan tangan, saling menopang beban, dan berjalan bersama di bawah pimpinan Roh Kudus untuk mencapai tujuan mulia bagi kemuliaan nama Tuhan. Tuhan memberkati kita sekalian. Amin.

(Renungan Ibadah Kolom setiap minggu ini dibuat mengikuti pembacaan Alkitab dan Tema Ibadah Minggu Sinode GPIBT)